Kreatifnya Anak Muda Bandung, Sulap Pasar Kosambi Jadi Tempat “Nongkrong” Kekinian

Kreatifnya Anak Muda Bandung, Sulap Pasar Kosambi Jadi Tempat “Nongkrong” Kekinian

24
0
BERBAGI

Kreatifnya Anak Muda Bandung, Sulap Pasar Kosambi Jadi Tempat “Nongkrong” Kekinian

“Saya tercengang”. Itu kalimat pertama Menteri Koperasi dan UKM (KUKM) Teten Masduki saat menginjakkan kakinya di The Hallway, Pasar Kosambi Bandung.

Bukan hanya Teten, warga Bandung yang memiliki kenangan di Pasar Kosambi akan sama tercengangnya dengan Teten.

Seperti Intan (30). Ia masih mengingat bagaimana ia diajak ibunya membeli kebutuhan pokok dan sekolah di Kosambi.

Sama seperti pasar tradisional umumnya. Kusam, bau, bahkan ada kalanya becek.

Itulah mengapa, ia kerap mengenakan pakaian selutut ke pasar. “Agar mudah dibersihkan,” ujar warga Antapani Bandung tersebut, Senin (5/4/2021).

Pasar Kosambi 20 tahun terbengkalai

Namun kini, pasar yang terbengkalai 20 tahun tersebut memiliki aura berbeda. Sebagian lokasi pasar disulap dengan gaya kekinian yang berjiwa muda. Namanya The Hallway.

The Hallway juga ditata dengan sangat kreatif dan unik dengan desain interior toko yang dibuat kekinian, mulai dari penyusunan tempat, pencahayaan lampu, kursi, dan sebagainya.

The Hallway, lokasi tersembunyi di Pasar Kosambi

Inisiator The Hallway, Rilly Robbi Gusadi mengatakan, pasar tradisional yang kerap diidentikkan dengan kotor, bau, dan becek membuatnya didominasi orang-orang tua.

Untuk mengubah cara pandang tersebut, pria yang akrab disapa Robbi ini menginisiasi creative space di dalam Pasar Kosambi dengan konsep hidden place.

Karena konsepnya hidden place, dari bagian luar, pengunjung hanya akan melihat bentuk Pasar Kosambi biasanya.

Pengunjung harus tanya satpam, lewati tangga yang gelap…

Pengunjung yang pertama kali berkunjung ke The Hallway harus bertanya pada satpam atau pedagang disana.

Mereka nanti akan menunjukkan satu tangga di ujung. Tangga tersebut cukup gelap. Setelah melewati tangga pengunjung akan melihat beberapa jongko pasar.

Baru kemudian pengunjung akan merasakan suasana yang jauh berbeda dengan pasar tradisional. Layaknya tongkrongan anak muda kekinian, itulah yang coba digambarkan The Hallway.

The Hallway memiliki 70 toko yang diisi 52 tenant. Terdiri dari food and bavarage, fashion, dan hobies seperti sepeda, dekorasi, hingga barbershop.

Setting dan desain interior toko dibuat kekinian. Mulai dari penyusunan tempat, pencahayaan, kursi, lampu, dan lainnya.

Begitupun dengan makanan dan minumannya. Tempat ini menyediakan berbagai makanan Asia, Western, dan tentunya nusantara.

Nantinya akan ada co-working space

Minuman unik pun beragam di sini. Tidak hanya berbagai racikan kopi, minuman berbahan dasar aloevera, kelapa, lemon, dan lainnya disuguhkan di sini.

Untuk fashion, mereka menjual berbagai jaket, sepatu, topi yang kebanyakan ditujukan untuk anak muda.

“Luas lantai 2 ini 1.400 meter, kita baru nempatin 20 persennya saja, dan beberapa lantai di gedung ini sudah 20 tahun terbengkalai,” tutur dia.

Nantinya, tempat ini dilengkapi co-working space, area anak, hingga tempat untuk community activity. The Hallway buka setiap hari dari pukul 12.00-22.00 WIB untuk weekday, dan pukul 12.00-23.00 untuk weekend.

Aneka event untuk hidupkan suasana The Hallway

Untuk menghidupkan suasana The Hallway, pihaknya menyiapkan berbagai event. Misal fashion show di pasar tradisional, seni rupa, seni musik, table maner yang menghadirkan chef terkenal dan lainnya.

Kemudian ke depan akan ada banyak komunitas yang bergabung seperti komunitas sepeda lipat. Namun karena dalam kondisi Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) semua event ini belum bisa berjalan optimal.

“Kita di sini tidak hanya sekadar jualan produk, tapi juga konten. Ada juga tujuan besar yang dibangun dari The Hallway,” ungkap dia.

Contohnya konsep hidden place yang diusungnya. Salah satu tujuannya agar pengunjung bertanya ke pedagang pasar tradisional yang di bawah.

Siapa tahu dengan interaksi ini, pedagang pasar tradisional ikut mendapatkan imbas dari The Hallway. Misalnya, mereka sekalian beli sayur dan keperluan lainnya.

“Soalnya Pasar Kosambi ini ramenya musiman, dan yang terkenal cuma dua yaitu seragam dan tempe goreng. Mudah-mudahan dengan adanya The Hallway berimbas positif pada pedagang tersebut,” ungkap dia.

Saat ini, omzet The Hallway sudah mencapai Rp 500 juta hingga Rp 700 juta perbulan.

Jadi, ia mengajak anak muda untuk nongkrong di pasar. Karena pasar tradisional itu tidak seperti yang dikatakan orang.

Tempat “nongkrong” asyik lain, untuk “showcase” produk artisan

Tempat nongkrong asyik lainnya yang dijadikan showcase produk artisan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI), adalah Grammars di Jalan Cihapit 6 Bandung dan Mr Roastman di Jalan Ciumbuluit 108 Bandung.

Grammars merupakan Pop Up Store berisi produk-produk kreatif terkurasi yang sering dikunjungi anak-anak muda milenial.

Sedangkan Mr Roastman merupakan tempat nongkrong bernuansa cafe yang akan dijadikan pusat aktivitas kreatif anak muda dan galeri pop up produk UKM.

Puluhan artisan terbaik Jawa Barat dipamerkan dalam kegiatan UKM Jabar Paten. Yaitu produk-produk buatan Amygdala Bamboo, Batik Fractal, Battenberg3, Blankenheim, Cipta Mandiri Craftindo, El32 Collection.

Lalu Elina Keramik, Everidea Interactive, Evermos, Grrotwatch, Hanan Aroma, Hasan Batik, Hirka, IDCloud Host, Jari Hitam, Kar Jewellery, Kaynn Craft, Old Dog Shoes, Pala Nusantara, Potlot Sudio.

Ada juga Rahsa Nusantara, Senja Sore, Shoes Care, Stranough, Swarga Flower Tea, Tridents, Trus & Well, Voute Denim, Yearn, Talkabot, dan Kiraku.id.

“Gernas BBI di Jabar mentitikberatkan pada produk-produk artisan yang sudah dikurasi menjadi produk unggul, tetapi bukan produk yang sifatnya mass production,” tutur Teten Masduki.

Teten mengungkapkan, gerakan ini akan mendorong digitalisasi UMKM yang merupakan kunci kebangkitan UMKM di masa AKB. Tidak hanya sebatas tahap on boarding ke platform e-commerce, namun bagaimana agar UMKM mampu berdaya saing dan tetap bertahan dalam ekosistem digital.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jabar, Herawanto mengungkapkan, infrastruktur dan SDM digitalisasi di Jabar terbilang paling maju. Namun hingga kini belum merata.

“Tingkat digitalisasi daerah di Jabar rata-rata 50-80 persen. Namun ada daerah yang masih sangat rendah, di atas 10 persen,” tutup Herawanto.

Artikel asli

LEAVE A REPLY