Jokowi: Ekonomi Sudah Bagus, Jangan Diganggu Covid-19 Lagi

Jokowi: Ekonomi Sudah Bagus, Jangan Diganggu Covid-19 Lagi

27
0
BERBAGI

Presiden Joko Widodo mengatakan, pertumbuhan ekonomi dan pengendalian kasus Covid-19 telah berada di titik keseimbangan.

Pertumbuhan ekonomi mencatatkan angka yang optimistis. Sementara itu, tren kasus harian Covid-19 semakin menurun.

“Pertumbuhan ekonomi kita di 2020 minus 2,1 persen. Kita hanya kalah dari RRT yang plus. Yang lainnya, AS, Jepang, Jerman, itu minus banyak,” ujar Presiden Jokowi, Selasa (20/4/2021).

“Dan kasus positifnya itu sekarang 4.000-an sampai 5.000-an, ini jauh turun dibandingkan Januari Februari yang di atas 10.000,” lanjut dia.

Oleh sebab itu, Presiden Jokowi berharap agar kondisi ini dapat dipertahankan. Jangan ada lagi peningkatan kasus Covid-19 yang dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi jadi terhambat.

Dalam rangka menyambut momentum Lebaran 2021 ini, Presiden pun meminta masyarakat benar-benar patuh terhadap larangan mudik.

Membatasi mobilitas masyarakat dinilai penting demi mencegah lonjakan kasus seperti yang terjadi pada Januari-Februari 2021.

Pasalnya, bila kasus Covid-19 melonjak lagi, pemulihan ekonomi pasti terganggu.

“Pertumbuhan ekonomi sudah bagus, makanya asal jangan diganggu (dengan peningkatan kasus) Covid-19 lagi,” ujar Presiden Jokowi.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, peningkatan mobilitas masyarakat berbanding lurus dengan peningkatan kasus harian Covid-19.

Catatan Presiden, pada libur Idul Fitri 22-25 Mei 2020 misalnya, rata-rata kasus positif naik sebesar 68 hingga 93 persen.

Kemudian, libur Hari Raya Tahun Baru Islam pada 20-23 Agustus 2020, rata-rata kasus positif naik sebesar 58-119 persen.

Contoh lain, yakni libur dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad pada 28 Oktober-1 November 2020, rata-rata kasus harian Covid-19 naik sebesar 37-95 persen.

Presiden Jokowi pun mendorong agar pelarangan mudik terus disuarakan berkali-kali di masyarakat.

Dorongan ini diperlukan karena menurut survei pemerintah masih ada 11 persen masyarakat yang masih berkeinginan untuk mudik.

Bila dikonversi, 11 persen masyarakat itu sama dengan 17 juta jiwa.

“Apalagi kalau tidak dilarang, hitung-hitungan kami bakal ada 120.000 hingga 140.000 kasus Covid-19 per hari. Makanya ini (angka pemudik) harus terus ditekan,” ujar Presiden.

Artikel Asli 

LEAVE A REPLY