Mengenal CVST, Efek Samping Vaksin AstraZeneca yang Kontroversial

Mengenal CVST, Efek Samping Vaksin AstraZeneca yang Kontroversial

40
0
BERBAGI

Bulan ini, sebanyak 1,1 juta dosis vaksin AstraZeneca telah tiba di Indonesia dan diizinkan penggunaannya oleh Badan Pengawas Obat-obatan (BPOM). Hal ini didasarkan pada keputusan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang telah menganjurkan penggunaan vaksin AstraZeneca dalam keadaan darurat.

Sebelumnya, Agensi Obat-obatan Eropa (EMA) telah meneliti vaksin ini secara menyeluruh dari segi efektivitas dan keamanan penggunaannya. Berdasarkan penelitian tersebut, WHO mendukung rekomendasi EMA untuk memberikan izin pemasaran bersyarat vaksin tersebut bagi orang yang berusia 18 tahun ke atas.

Vaksin AstraZeneca dinilai memiliki tingkat perlindungan terhadap COVID-19 hingga 63,09 persen, tidak jauh berbeda dari Sinovac yang dinilai memiliki efikasi sekitar 65,3 persen. Walau demikian, hingga kini masyarakat masih sangsi terhadap vaksin AstraZeneca karena ada kekhawatiran akan risiko penggumpalan darah merujuk pada trombosis sinus vena serebri atau cerebral venous sinus thrombosis (CVST).

Untuk lebih memahaminya, baca ulasan fakta-faktanya di bawah ini hingga tuntas, ya!

1. Apa itu CVST?

Dirangkum dari Johns Hopkins Medicine dan Medscape, kasus “gumpalan darah otak” yang sering disebut-sebut dalam pemberitaan terkait vaksin AstraZeneca sebetulnya merujuk pada CVST.

CVST terjadi ketika trombus (darah beku yang menyumbat pembuluh darah) terbentuk di salah satu komponen otak, yaitu sinus vena, yang mengandung banyak pembuluh darah. Gumpalan darah ini menyumbat aliran darah, sehingga darah tidak bisa mengalir keluar dari otak. Akibatnya, sel darah bisa pecah dan terjadilah pendarahan yang merembes ke jaringan otak.

2. Apakah CVST berbahaya?

Ya, CVST tergolong kondisi serius yang bisa menyebabkan kematian. CVST adalah salah satu bentuk stroke yang langka.

Seperti yang kita ketahui, stroke dapat merusak otak dan sistem saraf pusat. Hal ini disebabkan karena jika gumpalan darah tidak disadari keberadaannya dan tidak segera diobati, gumpalan darah tersebut akan membesar dan menyebabkan tekanan dalam otak terus meningkat. Lama-lama suplai darah yang membawa nutrisi dan oksigen ke otak semakin berkurang dan terjadilah kerusakan jaringan otak.

Karena pada dasarnya otak adalah organ yang berperan penting pada fungsi luhur manusia seperti berpikir dan bekerja, CVST berpotensi menimbulkan kecacatan yang menetap seperti gangguan memori, gangguan kognitif, kelumpuhan, koma, dan lain sebagainya.

3. Siapa yang berpotensi mengalami CVST?

Sebenarnya CVST adalah kondisi yang sangat langka. Diperkirakan setiap tahunnya pada orang dewasa, CVST hanya menyerang 3-5 dari 1 juta orang, sementara pada bayi baru lahir CVST menyerang 7 dari 1 juta bayi.

Faktor risiko terbesar yang menyebabkan seseorang lebih rentan menderita CVST adalah memiliki riwayat gangguan pembekuan darah. Contohnya seperti sindrom antifosfolipid, defisiensi (kekurangan) komponen pembekuan darah tertentu seperti protein C, antitrombin III, dan lain sebagainya. Biasanya gangguan pembekuan darah ini disebabkan oleh faktor genetik dan diturunkan dalam keluarga, sehingga kondisi ini jarang ditemui.

Selain itu, faktor risiko lainnya yang turut berperan adalah perempuan hamil atau berada dalam minggu pertama setelah melahirkan, orang dengan obesitas, orang dengan riwayat trauma kepala, serta pasien penyakit tertentu seperti lupus, kanker, anemia bulan sabit (sickle cell anemia), talasemia beta, dan infeksi tertentu pada bayi baru lahir.

4. Apa saja gejala CVST yang harus diwaspadai?

Gejala yang paling menonjol adalah nyeri kepala hebat yang terjadi tiba-tiba dan belum pernah terjadi sebelumnya. Nyeri kepala yang demikian disebut thunderclap headeache, yang digambarkan seolah ada kilat yang menyambar di dalam kepala.

Selain itu, dapat pula terjadi gejala lainnya seperti mual muntah, pandangan menjadi kabur, kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh (hemiparesis), kejang-kejang, serta penurunan kesadaran.

5. Apakah CVST dapat disembuhkan?

Ya, CVST bisa disembuhkan. Semakin cepat CVST terdiagnosis dan mendapat penanganan medis, semakin besar peluang pasien untuk sembuh dan terhindar dari kematian.

Tingkat kematian akibat kasus trombosis pada vena otak yang tidak diobati diperkirakan sekitar 14-48 persen, sedangkan sekitar 25-30 persen pasien sembuh total.

Penelitian dan studi kasus di berbagai negara juga menunjukkan bahwa jumlah pasien CVST yang sembuh lebih banyak dibandingkan yang meninggal. Walau demikian, tingkat kecacatan dan gangguan neurologis yang menetap bahkan setelah pasien tersebut pulih dari CVST masih cukup tinggi.

6. Apakah Vaksin AstraZeneca menyebabkan CVST?

Menurut keterangan di situs resmi EMA, angka kejadian kasus CVST pada penerima vaksin AstraZeneca sangatlah kecil. Dari 20 juta penerima vaksin di Inggris dan European Economic Area (EEA), hanya 18 orang di antaranya yang terdiagnosis CVST, sehingga EMA menyimpulkan bahwa hubungan sebab akibat antara vaksin AstraZeneca dan CVST masih belum terbukti.

Pihak EMA tidak memungkiri bahwa vaksin ini dapat dikaitkan dengan kasus pembekuan darah yang berkaitan dengan trombositopenia, suatu kondisi di mana kadar trombosit darah berada di bawah normal. Namun, secara umum EMA telah memastikan bahwa vaksin ini tidak meningkatkan risiko penggumpalan darah, terutama pada calon penerima vaksin yang tidak memiliki riwayat gangguan pembekuan darah, trombositopenia, maupun kondisi-kondisi penyerta lainnya yang menjadi faktor risiko CVST.

Hingga saat ini, hubungan sebab akibat antara AstraZeneca dan CVST masih terus diteliti lebih lanjut.

Karena dampak penyebaran pandemi COVID-19 yang telah menewaskan banyak orang dan sulit dihentikan, WHO dan EMA memandang bahwa manfaat yang diberikan oleh vaksin AstraZeneca jauh lebih besar dibandingkan peluang risiko terjadinya efek samping CVST yang notabene tergolong langka.

Meskipun demikian, penting bagi penerima vaksin untuk tetap waspada akan munculnya gejala-gejala berikut ini:

  • Sesak napas
  • Nyeri di area dada atau perut
  • Kaki terasa bengkak atau dingin
  • Nyeri kepala yang berat atau pandangan yang memburam setelah menerima vaksin
  • Pendarahan yang terus-menerus dan sulit dihentikan
  • Muncul memar-memar kecil atau titik-titik berwarna merah keunguan di kulit

Jika gejala-gejala tersebut muncul setelah menerima vaksin AstraZeneca, ada kemungkinan penerima vaksin mengalami penggumpalan darah. Segera pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis sebelum timbul komplikasi lebih lanjut.

Itulah penjelasan mengenai CVST, efek samping vaksin AstraZeneca yang angka kejadiannya tergolong langka. BPOM pun sudah memastikan keamanan penggunaan vaksin ini. Ingat, manfaat vaksinasi COVID-19 jauh lebih besar daripada risiko yang ditimbulkan.

Artikel Asli

LEAVE A REPLY